Masa remaja di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah periode di mana identitas diri sedang dibentuk, dan penerimaan oleh kelompok sebaya menjadi sangat penting. Di era media sosial, tantangan ini diperparah dengan munculnya Fear of Missing Out (FOMO) dan peningkatan Tekanan Sosial yang konstan. Remaja SMP secara terus-menerus membandingkan hidup mereka dengan citra yang disaring dan ideal di media sosial, memicu kecemasan, rasa tidak aman, dan keinginan kompulsif untuk mengikuti setiap tren atau aktivitas. Mengatasi Tekanan Sosial ini menjadi tugas mendesak bagi orang tua untuk menjaga kesehatan mental anak-anak mereka. Sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Pusat Perlindungan Anak dan Remaja (PPA) pada tahun 2024 di beberapa kota besar menemukan bahwa 75% kasus kecemasan remaja berkaitan langsung dengan kebutuhan untuk validasi dan persaingan di lingkungan digital atau pergaulan.
FOMO dan Tekanan Sosial tidak hanya memengaruhi aspek emosional, tetapi juga finansial dan perilaku. Remaja bisa merasa terdorong untuk meminta barang-barang mahal (seperti gawai terbaru atau fashion item tertentu) hanya agar merasa ‘setara’ dengan teman-temannya. Lebih jauh, tekanan ini dapat mendorong mereka terlibat dalam perilaku berisiko, seperti mencoba zat adiktif atau melanggar aturan sekolah, demi mendapatkan pengakuan dan status di kelompok. Oleh karena itu, langkah pertama bagi orang tua adalah membangun komunikasi terbuka tanpa menghakimi. Orang tua perlu menjadi tempat aman bagi anak untuk membicarakan perasaan mereka tentang insecurity dan rasa takut ditinggalkan.
Strategi praktis yang dapat diterapkan oleh orang tua adalah mengajarkan keterampilan berpikir kritis terhadap konten media sosial. Remaja perlu memahami bahwa feed media sosial adalah hasil kurasi yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari. Orang tua dapat membantu anak menganalisis konten yang mereka lihat, mengajukan pertanyaan seperti: “Apakah ini benar-benar penting bagimu, atau hanya penting bagi orang lain?” dan “Apa yang kamu lewatkan jika kamu tidak ikut tren ini?”. Penguatan nilai-nilai pribadi di luar validasi sosial juga penting; misalnya, fokus pada prestasi akademis atau kontribusi positif melalui kegiatan ekstrakurikuler yang sesuai dengan minat unik anak.
Selain itu, orang tua dapat membantu menciptakan lingkungan SMP yang suportif dengan bekerja sama dengan pihak sekolah. Konselor sekolah atau guru BK dapat memberikan sesi edukasi yang berfokus pada digital wellbeing dan pentingnya self-worth. Pada pertemuan rutin komite sekolah tanggal 15 Mei 2026, Dinas Pendidikan setempat menyarankan agar setiap SMP mengintegrasikan modul pencegahan FOMO dalam materi Bimbingan Konseling (BK) untuk siswa Kelas VII dan VIII. Dengan kombinasi dukungan di rumah, komunikasi yang sehat, dan edukasi yang terstruktur di sekolah, orang tua dapat membekali anak mereka dengan ketahanan emosional yang diperlukan untuk menavigasi kompleksitas Tekanan Sosial di era digital ini.
