Sejarah pendidikan di Indonesia pada masa kolonial memiliki tujuan yang sangat berbeda dengan konsep pendidikan modern. Sebelum munculnya era Politik Etis, arah pembelajaran kolonial oleh pemerintah Hindia Belanda secara terang-terangan difokuskan untuk menciptakan tenaga kerja rendahan yang murah. Ini bukanlah tentang mencerdaskan bangsa atau meningkatkan kualitas hidup masyarakat pribumi, melainkan semata-mata untuk memenuhi kebutuhan operasional dan ekonomi kolonial yang terus berkembang.
Pendidikan yang diberikan pada masa itu sangatlah dasar, hanya mencakup kemampuan membaca, menulis, dan berhitung seadanya. Kurikulum ini didesain agar masyarakat pribumi dapat mengisi posisi-posisi sebagai juru tulis, mandor, atau pegawai administrasi tingkat rendah di pabrik-pabrik, perkebunan, atau dinas-dinas lokal seperti tingkat desa, distrik, dan onderdistrik. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1890, di berbagai daerah seperti Jawa Barat, banyak sekolah dasar didirikan, namun dengan materi pelajaran yang terbatas, yang menekankan kepatuhan dan keterampilan praktis sederhana. Tujuan utama dari arah pembelajaran kolonial ini adalah efisiensi operasional dan pengurangan biaya tenaga kerja bagi pemerintah kolonial dan perusahaan swasta Belanda.
Implikasi dari kebijakan pendidikan ini sangat mendalam. Masyarakat pribumi dibatasi aksesnya terhadap pendidikan yang lebih tinggi, yang hanya diperuntukkan bagi kalangan elite tertentu atau kaum Eropa. Ini menciptakan stratifikasi sosial yang jelas, di mana pendidikan menjadi alat untuk mempertahankan hierarki kekuasaan kolonial. Laporan dari seorang pengawas sekolah kolonial pada bulan April 1895 menyebutkan bahwa “kemampuan baca tulis sederhana sudah cukup untuk keperluan administrasi desa,” yang mengindikasikan rendahnya ekspektasi terhadap kapasitas intelektual pribumi.
Kondisi ini berlangsung hingga awal abad ke-20, ketika desakan dari berbagai pihak, termasuk golongan humanis di Belanda, mulai memicu munculnya Politik Etis. Kebijakan ini, yang mulai diterapkan secara signifikan sekitar tahun 1901, sedikit mengubah arah pembelajaran kolonial menjadi lebih memperhatikan kesejahteraan pribumi, meskipun praktiknya masih jauh dari ideal. Namun, harus diakui bahwa sebelum era tersebut, pendidikan hanyalah instrumen untuk menjaga roda ekonomi kolonial berputar dengan biaya seminimal mungkin. Memahami tujuan pendidikan di masa lampau ini penting agar kita dapat menghargai perjuangan para tokoh bangsa dalam meraih pendidikan yang layak dan setara bagi seluruh rakyat.
