Sekolah memang merupakan tempat utama anak belajar, namun rumah adalah sekolah pertama dan utama bagi seorang anak. Dalam upaya membangun karakter cerdas, pendampingan orang tua memegang peranan yang sangat fundamental, terutama bagi siswa SMP yang sedang mengalami masa transisi menuju kedewasaan. Literasi bukan hanya tugas guru bahasa Indonesia, melainkan sebuah budaya yang harus dihidupkan dalam interaksi harian antara anak dan orang tua. Ketika anak melihat orang tuanya membaca buku atau berdiskusi tentang berita yang sedang hangat, mereka akan menangkap pesan kuat bahwa literasi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang dewasa yang cerdas dan sukses.
Bentuk dukungan yang paling sederhana namun bermakna adalah dengan menyediakan waktu khusus untuk membaca bersama atau mendiskusikan topik tertentu di meja makan. Melalui pendampingan orang tua, anak merasa didengarkan pendapatnya saat menceritakan kembali buku yang mereka baca atau film yang baru mereka tonton. Hal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan diri remaja dalam berpendapat. Orang tua juga perlu memberikan akses yang mudah terhadap berbagai bahan bacaan di rumah, mulai dari koran, majalah, hingga koleksi buku di rak yang mudah dijangkau. Kehadiran fisik buku di rumah adalah stimulus visual konstan yang mendorong anak untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.
Selain memfasilitasi bahan bacaan, orang tua juga harus berperan sebagai filter digital bagi anak-anak mereka. Di tengah arus informasi yang tak terbendung di gawai, pendampingan orang tua diperlukan untuk membimbing anak dalam memilih konten yang bermanfaat dan menghindari dampak buruk dari paparan internet yang berlebihan. Diskusi santai mengenai kebenaran sebuah informasi di media sosial dapat melatih daya kritis anak. Orang tua tidak boleh bersifat otoriter dengan melarang penggunaan teknologi, namun harus menjadi teman diskusi yang bijak dalam mengarahkan anak menggunakan teknologi untuk tujuan literasi dan pengembangan wawasan secara positif dan bertanggung jawab.
Kesinambungan antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah akan menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangan literasi anak. Sekolah dapat mengadakan sesi pertemuan rutin dengan orang tua untuk berbagi tips mengenai cara efektif mendukung minat baca anak di rumah. Program literasi keluarga ini akan mempererat hubungan emosional sekaligus meningkatkan kualitas intelektual seluruh anggota keluarga. Tanpa adanya pendampingan orang tua yang konsisten, upaya sekolah dalam meningkatkan literasi siswa akan terasa kurang maksimal. Oleh karena itu, sinergi yang harmonis antara guru dan orang tua adalah kunci utama dalam melahirkan generasi muda yang gemar membaca, mampu berpikir kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
