Keanekaragaman hayati merupakan aset tak ternilai bagi sebuah bangsa, terutama dalam menjaga ketahanan pangan di masa depan. Di tengah arus modernisasi pertanian yang cenderung menggunakan benih hibrida sekali pakai, SMA 1 Wonosari mengambil langkah berani dengan mendirikan sebuah unit pelestarian yang dikenal sebagai Bank Benih Lokal. Inisiatif ini bukan hanya sebuah proyek ekstrakurikuler biasa, melainkan sebuah gerakan konservasi untuk menyelamatkan kekayaan genetik tanaman pangan asli daerah Gunungkidul yang mulai langka. Melalui program ini, sekolah berupaya mengedukasi generasi muda bahwa kemandirian pangan dimulai dari penguasaan dan pelestarian benih oleh tangan-tangan lokal.
Gunungkidul memiliki karakteristik lahan yang unik, dan tanaman lokal di wilayah ini telah beradaptasi selama ratusan tahun terhadap kondisi iklim yang spesifik. SMA 1 Wonosari menyadari bahwa varietas asli seperti jagung lokal, kacang-kacangan, dan padi gogo memiliki ketahanan yang luar biasa terhadap kekeringan. Dengan menjalankan misi penyelamatan ini, para siswa diajak untuk berburu benih ke pelosok desa, mendokumentasikannya, dan menyimpannya dalam fasilitas penyimpanan yang memenuhi standar keamanan biologis. Langkah ini menjadi benteng pertahanan terakhir agar kekayaan hayati nusantara tidak hilang tertelan zaman.
Program ini memfokuskan kegiatannya pada upaya untuk tetap jaga varietas asli agar tidak mengalami kepunahan akibat dominasi produk industri global. Di bawah bimbingan guru biologi, siswa belajar tentang teknik pemuliaan tanaman secara tradisional maupun semi-modern. Mereka melakukan pengujian daya tumbuh dan ketahanan benih di kebun percobaan sekolah sebelum benih tersebut disimpan atau dibagikan kembali kepada petani lokal. Proses ini memberikan pemahaman mendalam kepada siswa bahwa sains bukan hanya tentang teori di dalam kelas, melainkan tentang bagaimana ilmu tersebut dapat melindungi kedaulatan sumber daya alam milik masyarakat.
Keseriusan SMA 1 Wonosari dalam mengelola bank benih ini terlihat dari keterlibatan mereka dalam jaringan konservasi internasional. Siswa belajar bagaimana cara menyimpan benih agar tetap memiliki daya kecambah yang tinggi dalam jangka waktu lama, termasuk pengaturan suhu dan kelembapan yang presisi. Edukasi ini sangat krusial karena selama ini banyak petani lokal yang mulai kehilangan kemampuan untuk memproduksi benih sendiri. Dengan hadirnya bank benih di tingkat sekolah, terjadi transfer pengetahuan yang sangat berharga antara generasi tua yang memiliki kearifan lokal dengan generasi muda yang memiliki akses terhadap teknologi riset.
